Bahar Malaka bersama Sanggar Tepas-nya Gelar Trauma Healing di Lokasi Longsor Cihanjuang

Bahar Malaka. Foto: istimewa

Duka mendalam masih menyesakan dada korban longsor di Kampung Bojongkondang, Desa Cihanjuang, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang pada Sabtu, 9 Januari 202 lalu.

Baca juga: Peringatan HPSN Ke-16 di Kampung Adat Cireundeu

Betapa tidak! 40 orang harus meregang nyawa akibat tertimbun longsoran bukit yang berada di Kampung Bojongkondang itu. Tak hanya itu, 23 orang termasuk anak-anak harua mendapat perawatan akibat mengalami luka.

Diceritakan Ketua RW 10 Kampung Bojongkondang, Cucu Supendi, longsor pertama terjadi sekitar jam 16.00 WIB. Kemudian sekitar pukul 20.00.WIB terjadi longsor susulan yang menewaskan 40 orang. "Sembilan belas diantaranya adalah warga Desa Cihanjuang.

Bencana alam di Desa Cihanjuang, yang menewaskan banyak orang, tentu menyisakan duka yang mendalam bagi bangsa Indonesia. Tak ayal, gelombang empati pun tak berhenti mengalir untuk menguatkan warga agar segera bangkit menata kehidupan lebih baik.

Bahar Malaka (kedua dari kiri) bersama Ormas Manggala. Foto: Edison

Tak terkecuali, Bahar Malaka bersama sanggar TEPAS-nya juga turut berempati pada korban bencana longsor itu.

Pria berambut gimbal kelahiran Bandung pada 6 Januari 1965 silam ini lantas berinisiatif untuk memulihkan kondisi kejiwaan korban longsor, khususnya anak-anak, dengan menggelar kegiatan trauma healing pada awal Februari 2021.

Baca juga: Menguak Penyangga Tatanan Negara

Sontak inisiatif itu mendapat dukungan dari Garda Manggala DPP Wilayah Cimindi serta Ormas Manggala PAC Cimanggung untuk membantu menghilangkan rasa ketakutan pada anak-anak korban bencana alam itu. Ketakutan anak-anak Desa Cihanjuang patut dimaklumi. Pasalnya, banyak teman sepermainan mereka yang ikut meregang nyawa gara-gara tertimbun longsor.

Kegiatan trauma healing pada anak-anak Desa Cihanjuang. Foto: Edison

Untuk menghapus kenangan pahit anak-anak itu, relawan yang tergabung dalam Tepas Bersamaku ini menggelar kegiatan bernyanyi, menggambar dan membagikan bingkisan pada anak-anak. Semua kegiatan itupun dikemas dengan cara yang ceria.

Saat kegiatan, tampak keceriaan anak-anak korban longsor tersebut mulai menghiasi wajah mereka. Senyuman dan gelak tawa anak-anak pun hadir kembali setelah sebelumnya menghilang akibat rasa trauma yang mendalam.

"Semoga hal kecil yang telah dilakukan komunitas Tepas Bersamaku ini bisa sedikit membantu pemulihan rasa ketakutan yang dialami anak-anak," terang pria pengagum Bob Marley, yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di Akademi Pariwisata (Aktripa) Bandung ini.


Penulis: Achmad /Edison