Daoed Joesoef dan Borobudur

Daoed Joesoef membujuk dunia untuk mengembalikan kemegahan Candi Borobudur 

Candi Borobudur

Awalnya Daoed Joesoef berpikir betapa keberadaan Candi Borobudur di tengah tinggalan budaya lainnya dapat menjadi cerminan dan bukti bahwa leluhur bangsa hidup dengan berdampingan di tengah keberagaman. Sekaligus juga membuktikan betapa nenek moyang kita sebenarnya telah merintis tidak hanya pertumbuhan universalisme dan relativisme tetapi juga lebih-lebih pluralisme.

Daoed Joesoef lahir di Medan pada 8 Agustus 1926. Selama tiga tahun masa revolusi kemerdekaan, 1946-1949, dia bersekolah di Yogyakarta. Namun, dia baru mengunjungi Candi Borobudur pada 1953 bersama kawan karibnya sejak remaja, Adi Putera Parlindungan, yang kuliah di Universitas Gadjah Mada. Dia sendiri kuliah di Universitas Indonesia.

Waktu itu, Daoed melihat kondisi Candi Borobudur tidak seperti sekarang. Lorong-lorongnya kumuh. Relief-reliefnya berhamburan. Tak ada yang tegak lurus. Semua miring dan berlumut. Di sana sini muncul tunas-tunas kecil pohon kayu yang tumbuh dari kotoran burung atau kelelawar. Seperti bangunan kuno berhantu.

Baca juga: Jejak Sejarah Kutang

Saat Daoed dan sahabatnya mengunjungi candi, mereka berdua diberi peringatan oleh seorang pemilik warung supaya berhati-hati kalau menaiki candi karena sewaktu-waktu bisa runtuh.

Keduanya tetap memberanikan diri naik ke candi yang tak berpenjaga. Di puncak tertingginya, mereka duduk sambil melepaskan pandangan ke semua penjuru. Sangat sunyi di tengah kebisuan puluhan stupa dan arca. 

Puluhan tahun kemudian kesempatan datang kepada Daoed. Ketika itu, dia sedang belajar di Sorbonne, dan bermukim di Paris, tempat kedudukan UNESCO. Dari sana dia tahu, kalau lembaga PBB itu punya dana untuk membiayai pemugaran monumen nasional yang penting bagi kemanusiaan dan peradaban. Berbeda dengan kebanyakan negara merdeka, waktu itu Indonesia tak punya perwakilan di UNESCO. “Sehingga tidaklah mengherankan bila sikap kedutaan kita 'dingin' ketika saya laporkan ada kesempatan baik bagi Indonesia di UNESCO untuk mendapat dana bagi perbaikan Borobudur,” terang Daoed semasa hidupnya.

Baca juga: Empat Tipe Perempuan Jawa Kuno

Keadaan berubah ketika Jenderal Askari diangkat menjadi duta besar untuk Prancis dan wakil di UNESCO. Dia bisa memahami maksud Daoed bahkan memintanya untuk terus berkiprah di forum UNESCO.

Sambil berkuliah di Sorbonne, antara 1968-1971, Daoed melalui diskusi-diskusi di forum UNESCO membujuk dunia akan urgensi menyelamatkan Candi Borobudur. Candi Borobudur punya saingan berat. Kota air Venesia di Italia dan runtuhan peradaban Mohenjodaro di Pakistan juga berebut dana bantuan UNESCO.

Kendati begitu, Candi Borobudur akhirnya berhasil memenangi dana bantuan UNESCO. Secara resmi pemugaran Candi Borobudur dimulai pada 10 Agustus 1973. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memegang tanggung jawab atas proyek itu. Lima tahun kemudian, pada 1978, sekembalinya ke Indonesia, Daoed dilantik Presiden Soeharto menjadi menterinya.

Sepuluh tahun kemudian, pada 23 Februari 1983, Candi Borobudur selesai dipugar. Daoed dan Adi Putera Parlindungan kembali menyepi di puncak candi. Mereka menyaksikan pemandangan yang asri dan megah dari ketinggian itu. “Kami berdua lebih banyak diam, tidak ingin mengganggu suasana yang kebetulan sedang hening, sunyi, dan sepi,” katanya.

Sketsa Candi Borobudur karya Daoed Joesoef yang dibuat ketika mengawasi proses pemugaran. Foto: Repro "Borobudur, Warisan Umat Manusia."

Melalui sketsa yang dibuat saat meninjau kegiatan pemugaran, Daoed menunjukkan kekaguman dan penghormatan kepada semua pencipta Candi Borobudur. Apa yang ada di benaknya adalah, Candi Borobudur tidak akan bisa digantikan. Candi itu tak ada duanya, di sini dan di mana pun.

Berkat jerih payahnya, Daoed menerima penghargaan dari Dalai Lama, pemimpin spiritual di Tibet, pada 2015. Ini bukti kalau Candi Borobudur tak hanya milik Indonesia, tapi juga milik dunia. Tanpa inisiatifnya, entah bagaimana Candi Borobudur sekarang. Daoed Joesoef meninggal dunia pada 23 Januari 2018.


Artikel ini disusun dari berbagai sumber