Eksotis Tapi Mistis

Gunung Arjuno adalah sebuah gunung berapi kerucut di Jawa Timur, Indonesia dengan ketinggian 3.339 m dpl. Gunung Arjuno secara administratif terletak di perbatasan Kota Batu, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Pasuruan.
Gunung Arjuno begitu dikenal sebagai tempat pemujaan dan pertapaan dimasa Majapahit. Oleh sebab itu, di kawasan ini banyak ditemui bekas-bekas peninggalan sejarah Majapahit. Bahkan di gunung yang eksotis ini terkenal dengan kisah mistis di kalangan para pendaki. 
Pengalaman mendengar lantunan suara gamelan di tengah gunung diceritakan oleh banyak pendaki. Dipercaya, suara gamelan itu berbunyi ketika makhluk tak kasat mata, penghuni Gunung Arjuno mengadakan Ngunduh Mantu (prosesi pernikahan adat Jawa).
Tak hanya pendaki, para penambang belerang pun para kerap mendengar lantunan suara gamelan. 
Konon, jika gamelan terdengar, disarankan para pendaki tidak melanjutkan perjalanan ke puncak. Jika memaksakan untuk terus ke puncak pendaki bisa hilang atau tersesat.
Tak hanya tentang suara gamelan, dari Pos Watu Gede menuju puncak Arjuno terdapat wilayah yang cukup luas dan ketinggiannya hampir sama dengan puncak Arjuno (Puncak Ogal-Agil), dipercaya merupakan tempat yang memiliki kekuatan mistis. Para pendaki sering menyebut kawasan itu Pasar Dieng atau Pasar Setan. Di kawasan ini juga terdapat makam beberapa pendaki. 
Konon, pernah ada pendaki yang membuka tenda untuk bermalam sebelum menuju puncak. Ketika malam hari, seorang pendaki dikejutkan dengan suasana gaduh di luar tendanya, dan 'melihat' sebuah pasar yang ramai.
Lantas, pendaki tersebut berkeliling pasar dan membeli sebuah jaket lalu kembali ke tenda. 


Ketika terbangun di pagi hari, kawasan sekitar tendanya sepi bahkan tak ada bekas pasar sedikitpun. Jaket yang dibelinya masih ada, namun uang kembalian yang diberikan oleh pedagang pasar tersebut berubah menjadi daun.
Meski dianggap sebagai mitos, tidak sedikit yang mempercayainya. Setidaknya, dari mitos yang berkembang pada akhirnya melahirkan aturan berupa pantangan yang harus dihindari oleh pendaki.
Selain pantangan melakukan perbuatan yang berakibat pada kerusakan alam, salah satu pantangan, yang agak nyeleneh, adalah larangan untuk bersiul. 
Jika saja itu dilakukan, diyakini akan mendatangkan badai. Oleh sebab itu, para penambang belerang acapkali marah jika mendapati pendaki yang bersiul. Tak jarang pula penambang yang meminta mereka turun jika nekat melanggar larangan bersiul.


Kontributor: Iwan Setyawan